Mengapa menulis puisi?Karena harus.Saat lintas peristiwa, gejolak emosi jiwa, kecamuk pemikiran, endapan perenungan mendesak untuk dituangkan dalam baris kata dan jari-jari menekan tombol-tombol papan ketik menyusun larik-larik diksi, mengalir begitu saja.Sejalan dengan laku yang menjadi kebiasaan, rasa ingin tahu menuntun pada pencarian: tentang teknik dan pemahaman. Membaca karya-karya pujangga yang terkenal dan tersembunyi. Kembali mengenal dasar-dasar: bunyi suara, pola tuang, rima, ritme, makna, makna di balik kata, dan seterusnya. Terus berlatih dan terus belajar dan semakin dahaga.Puisi-puisi kontemporer dalam buku ini merupakan hasil kontemplasi penulis tanpa tendensi untuk menjadi ujar bijaksana, karena penulis sepenuhnya sadar: setiap tulisan adalah hak pembacanya untuk diinterpretasikan secara personal, yang mungkin berbeda dengan pengartian penulis.Jika ternyata ada puisi yang Anda rasakan sebagai kata-kata Anda, maka memang puisi itu ditulis sebab Anda dan untuk Anda. Jika tidak, maka tak jadi soal juga.Karena E.E. Cummings pernah berkata: "Puisi hadir untuk Anda dan untuk saya, bukan untuk semua orang." Maka saya akan terus berpuisi sampai kehabisan kata. Bandung, 29 Agustus 2016
- | Author: Ikhwanul Halim
- | Publisher: Pimedia
- | Publication Date: Jul 28, 2021
- | Number of Pages: 110 pages
- | Binding: Paperback or Softback
- | ISBN-13: 9798223132219
- Author:
- Ikhwanul Halim
- Publisher:
- Pimedia
- Publication Date:
- Jul 28, 2021
- Number of pages:
- 110 pages
- Binding:
- Paperback or Softback
- ISBN-13:
- 9798223132219